Teologi adalah refleksi iman. Doa adalah (salah satu bentuk) pengungkapan iman. Maka, amat wajar kalau teologi juga merefleksikan doa sebagai penghayatan iman. Ciri khas teologi adalah sifat ilrniahmya. Bukan sembarang refleksi irnan bisa disebut teologi. Teologi itu harus dijalankan secara metodis dan sistematis. Tetapi, dalam ulasan ini, justru aspek itu tidak mau diberi terlalu banyak perhatian. Tujuannya lain. Tekanan ada pada refleksi, tetapi dalam kerangka teologi umum Dalam ulasan yang terakhir ini, doa mau di tempatkan dalam keseluruhan hidup iman sejauh direfleksikan dan disistematisasikan oleh teologi. Sesungguhnya segala sesuatu yang telah dikatakan dalam bab-bab yang mendahului sudah merupakan refleksi teologis. Bab terakhir ini mempunyai maksud khusus, mau bertanya mengenai sumbangan yang dapat diberikan oleh teologi pada doa. Pertanyaan ini sebetulnya agak aneh. Sebab, banyak orang yang berdoa, dan berdoa dengan baik sekali, namun sama sekali tidak tahu-menahu mengenai teologi. Bagaimana mau berbicara mengenai sumbangan teologi pada doa mereka? ltulah pertanyaan pokok. Tetapi, sebelum dapat menjawab pertanyaan itu, perlu dipikirkan dulu apa yang dimaksud dengan refleksi iman dan apa yang membedakan teologi (sebagai refleksi iman) dari doa.

Refleksi iman
Teologi adalah refleksi iman, atau lebih lengkap dikatakan: teologi adalah refleksi atas wahyu Tuhan sejauh diterima oleh manusia beriman. Tujuan teologi adalah pemahaman, mau mengerti apa yang diimani dan apa sebetulnya arti iman itu sendiri. Doa lain. Dalam doa, pasti juga ada unsur refleksi, sebab orang berdoa dengan sadar dan penuh pengertian. Tetapi, tujuan doa bukanlah pemahaman. Doa mau menanggapi sapaan Allah. Biasanya doa dipahami sebagai suatu dialog dengan Allah. Kata “dialog” itu sebetulnya suatu metafora, bahkan semacam antropomorfisme, yang berbicara mengenai Allah seolah-olah Dia seorang manusia. Tetapi, metafora itu dapat dimanfaatkan. Dalam percakapan manusia dengan orang lain, dapat dibedakan empat aspek: pemyataan, ekspresi diri, sapaan, dan tawaran hubungan pribadi. Keempat aspek itu menjadi satu dalam percakapan. Tetapi, dalam percakapan konkret, biasanya tekanan ada pada satu aspek saja, di mana yang lain tinggal implisit. Misalnya dalam suatu percakapan mengenai dagang, tekanan jelas ada pada “pemyataan” mengenai harga, kondisi, jaminan, dan seterusnya, dan soal hubungan pribadi terbatas pada relasi bisnis sebagai penjual dan pembeli. Bisa juga bahwa seluruh percakapan terbatas pada sapaan saja, misalnya kalau memanggil seseorang. Tetapi, dalam hal itu, percakapan juga belum selesai dengan panggilan itu saja. Dalam wahyu Tuhan, juga dapat dibedakan empat aspek itu, tetapi harus ditempatkan dalam kerangka seluruh relasi Allah dengan manusia, khususnya dalam kerangka sejarah keselamatan.

Jelas sekali bahwa dalam doa, tekanan ada pada ekspresi diri, sapaan, dan hubungan pribadi. Pernyataan juga ada, sebab tidak ada doa tanpa isi. Tetapi, jelas sekali bahwa yang paling pokok bukan isi itu, melainkan relasi, hubungan pribadi. Berhubungan dengan itu, juga sapaan dan ekspresi diri perlu. Manusia menyadari (itu unsur refleksi) bahwa ia dipanggil (“disapa”) oleh Allah, dan doanya adalah pertama-tama jawaban atas panggilan Allah itu. Itu bisa berupa puji-syukur, bisa permohonan; bisa didoakan bersama, bisa sendirian; bisa dirumuskan dengan kata-kata, bisa merupakan sikap batin saja. Semua itu tidak mengubah yang pokok ini, bahwa doa adalah hubungan pribadi, tanggapan atas panggilan Allah. Karena itu, doa tidak tertuju kepada pemahaman,tetapi kepada hubungan. Sejauh mana doa itu “menyentuh” Allah yang disapa, itu merupakan pertanyaan teologis lain yang juga harus dibicarakan di bawah ini. Tetapi doa, dalam bentuk mana pun, selalu menyapa Allah, “berseru kepada nama Tuhan” (Kis 2:21; 22:16; Rom 10:13). Maka, yang penting dalam doa adalah nama Allah, bukan paham Allah. Nama memang tidak sama dengan pengertian atau pemahaman. Nama adalah sebutan, bahkan sebutan khusus, yang khas untuk pribadi tertentu. Dalam Alkitab, nama Allah sering sama dengan Allah sendiri (lih. 2Sam 7:13; Mzm 86:11; Mat 6:9). Dengan narna-Nya itu, Tuhan menjadi konkret, dan bukan suatu daya-kekuatan yang gaib saja. Pabarn dapat dijelaskan dan dibatasi, nama hanya dapat dimengerti dari cerita pengalaman. Untuk pabam ada contoh banyak, nama selalu unik dan khusus. Nama berkaitan dengan sejarah seseorang.

Nama dan paham
Sesungguhnya pewahyuan nama Allah adalah dasar dan suri-teladan segala wahyu. Dengan memberikan nama-Nya Allah memberikan diri kepada manusia. Ini bukan bahasa antropomorf: ini bahasa manusia, karena berbicara mengenai sejarah Allah dengan manusia. DaIam nama-Nya, Allah yang tetap “tersembunyi dan rahasia” (l Kor 2:7; bdk. Ef 3:9) hadir dalam sejarah man usia. Karena itu, nama Allah memang inti-pokok pewahyuan. Maka, dari pihak manusia, nama itu juga pusat imannya (bdk. lTim 4:6). Nama itu adalah semacam simbol yang menunjuk ke atas manusia sendiri kepada Allah yang agung dan mulia. Nama itu memang diberikan kepada manusia, tetapi tidak pernah dimiliki atau dikuasai oleh manusia. Dengan nama itu, manusia berhadapan dengan Allah, yang tetap tinggal misteri baginya. Nama itu berarti Allah yang memberikan diri kepada manusia. Dalam doa, manusia berani menanggapi pemberian diri Allah itu, dan menyapa Allah dengan nama yang disingkapkan-Nya kepada manusia. Justru karena nama itu, doa menjadi dialog, paling sedikit dari pihak manusia. Manusia berbicara dengan Allah yang dapat disapa olehnya.

Namun, kalaupun nama dengan tegas harus dibedakan dari paham, itu tidak berarti bahwa nama tidak ada hubungan dengan pemahaman. Tidak tanpa dasar larangan dalam Ul 4:19: “Jangan engkau mengarahkan matamu ke langit, sehingga apabila engkau melihat matahari, bulan dan bintang, segenap tentara langit, engkau disesatkan untuk sujud menyembah dan beribadah kepada sekaliannya itu.” Bulan dan bintang ada pada “segala bangsa di seluruh kolong langit sebagai bagian mereka”. Tetapi “Tuhan telah mengambil kamu dan membawa kamu keluar dari dapur peleburan besi, dari Mesir, untuk menjadi umat milik-Nya sendiri” (ay. 20). Nama Tuhan tidak hanya berhubungan dengan doa dan kebaktian, tetapi khususnya dengan anamnesis, pengenangan akan karya agung Tuhan di dunia. Yang paling pokok dalam doa memang relasi pribadi dengan Allah, yang disapa dengan nama Tuhan. Tetapi, nama Tuhan itu berkaitan dengan peristiwa-peristiwa tertentu dalam sejarah Allah dengan manusia. Dan ternyata dalam perkembangan sejarah, nama clan paham Allah makin saling mempengaruhi dan menentukan. Khususnya karena paham monoteis, Tuhan makin berarti Allah yang Mahakuasa. Perkembangan itu dapat dilihat dalam Kitab Suci, khususnya dalam Perjanjian Lama. Kentara sekali bahwa Tulran yang disapa sebagai Allah bangsa terpilih makin dipahami sebagai Allah semesta alamo Dalam doa, tekanan memang ada pada hubungan pribadi yang khusus. Tetapi, janganlah doa dibatasi pada urusan pribadi saja. Juga dalam doa pribadi, yang disapa adalah “Tuhan langit dan bumi” (Mat 11:25), yang adalah “Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rm 15:6; 2Kor 1:3; Ef 1:3; Kol 1:3; 1Ptr 1:3). Yang dihadapi dan disapa adalah Sang Pencipta yang telah menyatakan diri dalam Yesus Kristus, Anak-Nya. Biarpun Tuhan disapa dalam relasi pribadi yang sangat khusus, sapaan itu hanya mempunyai arti kalau dilihat dan ditempatkan dalam seluruh sejarah Allah dengan manusia.

Mengenal Allah
jelas, paham Allah harus dibedakan dari nama Allah. Itu berarti bahwa pengetahuan harus dibedakan dari pengalaman. Dengan segala pengetahuan teoretis, manusia tak pernah dapat mengenal Allah secara pribadi. Hanya dalam pertemuan,dalam pengalaman hidup, manusia dapat mengenal Allah. Dengan pengalaman akan Allah, di sini tentu dimaksudkan pengalaman iman. Allah dimengerti sebagaimana Ia menyatakan diri. Itu berarti pertama-tama sebagai Pencipta, dan kedua sebagai Penyelamat; atau dengan kata lain: sebagai dasar dan tujuan hidup. Adalah tugas teologi untuk memperlihatkan bagaimana karya Allah, sebagai Pencipta dan Penyelamat, dalam pewahyuan triniter benar-benar memperlihatkan siapa Allah sesungguhnya. Maka, teologi mulai dengan mengakui adanya Allah. Sebab, orang tidak dapat percaya pada Allah yang tidak ada. Tetapi, ini bukan semacam pengandaian pikiran, melainkan suatu pengandaian yang berdasarkan pengalaman iman dalam perjumpaan dengan Allah (melalui Sabda-Nya dan dalam Roh-Nya). Secara konkret, ini berarti bahwa Allah dimengerti sekaligus sebagai Yang transenden dan imanen, dan pengertian itu pun adalah pengalaman. Sebab, Allah dialami sebagai Nan Mahaagung yang mengatasi segala-galanya, namun yang sekaligus hadir dan menghidupkan. Oleh karena itu, sikap iman tidak hanya berarti pengakuan, tetapi juga ketaatan, sembah-sujud, dan pengabdian. Adalah tugas teologi untuk menjelaskan semua itu secara rasional.

Jadi, teologi harus menerangkan

  1. apa dasar (historis) iman;
  2. bagaimana iman itu diungkapkan, baik dahulu maupun sekarang:
  3. apa inti-pokok iman itu dan apa hubungan antara aneka aspeknya; dan
  4. bagaimana iman itu dapat diwartakan dan disosialisasikan pada zaman sekarang.

Teologi tidak berpangkal pada pahamAllah, tetapi berusaha memperlihatkan bagaimana Allah telah mendekati manusia dan ingin bertemu dengannya. Tugas pokok teologi ialah mempertemukan manusia modern dengan wahyu Allah, yang diberikan dalam sejarah sejak zaman dahulu. Itu hanya mungkin kalau teologi secara serius dan pribadi bertanya mengenai arti Allah bagi manusia sekarang. Jawaban atas pertanyaan itu adalah paham Allah. Paham Allah tidak berasal dari refleksi manusia atas dirinya sendiri, melainkan dari refleksi atas sejarah pewahyuan Allah. Namun, perlu diperhatikan juga bagaimana manusia mampu menerima wahyu Allah itu. Sebab, Firman Allah ditujukan kepada manusia, dan hanya mempunyai arti kalau dapat diterima dan dimengerti oleh manusia. Juga dalam doa, manusia tidak menyapa Allah sebagai pribadi yang tidak dikenal atau yang hanya dibayangkan saja menurut khayalan sendiri. Sebaliknya, dalam doa, manusia menyapa Allah yang dengan nyata-nyata telah memperkenalkan diri secara konkret dan historis, khususnya dalam Yesus dari Nazaret.

Cari yang pokok
Teologi harus membantu orang untuk menempatkan doa-nya dalam kerangka yang lebih luas, dalam kerangka sejarah Allah dengan man usia. Tetapi, pusat perhatian teologis adalah paham Allah, yakni pemahaman akan apa yang dimaksud dengan kata “Allah”. Iman devosional atau agama yang dimutlakkan hanya dapat hidup dari gambaran Allah yang antropomorf atau dari rumusan dogmatis yang abstrak. Kedua-duanya tidak menyentuh hati. Paham Allah sebagai rnisteri tidak pernah dapat digambarkan ataupun dirumuskan, hanya dapat dihayati dalam dinamika hidup sendiri. Itu berarti bahwa setiap orang harus mencari paham Allah sendiri. Hanya boleh diharapkan bahwa dialog di antara orang beriman dapat menolong orang perorangan untuk mengarahkan matanya kepada misteri Allah itu. Dalam hal ini, ia dapat memperoleh banyak pertolongan dari orang lain, khususnya dari mereka yang diberi tugas merefleksikan sejarah wahyu dan iman.Dengan demikian, orang senantiasa dapat mengoreksi gambaran atau rumusannya sendiri mengenai Allah dan mencocokkannya dengan pengalaman misteri dalam hidupnya sendiri, Yesus bersabda, ‘Yang kamu sebut Allah, Aku sebut ‘Bapa'” (bdk. Yoh 8:54). Ia tidak menerangkan atau mengoreksi gambaran mereka, Ia berbicara mengenai hubungan dengan Allah itu. Ia tidak berbicara mengenai Allah, Ia berbicara dengan Allah. Tetapi, Ia berdoa dalam tradisi Israel, yang Ia kenal dengan baik. Doa-Nya berdasarkan suatu relasi yang sangat pribadi sifatnya (lib. Mat 6:7-8), tetapi Ia sering memakai kata-kata dan rumus yang lazim dalam agama Yahudi.

Sesungguhnya dengan demikian Yesus memberi pelajaran bahwa paham Allah hanya dapat ditemukan dalam hati orang yang mengasihi sesamanya dan yang hidup di dalam dunia yang dinikmatinya serta disyukuri sebagai anugerah Allah. Maka, paham Allah juga dapat berkembang dalam penderitaan. Allah bukanlah Allah filsafat dan teologi, tetapi Allah anak-anak, yang mengagumi dunia di sekitar mereka dengan hati yang gembira (bdk. Luk 18:16). Allah itu juga memberi inspirasi kepada orang tua dan kepada semua orang yang mau hidup (bdk. Yoh 10:10), yang hidup di dunia sekarang, tetapi yang hidupnya bermuara ke dalam keabadian hidup Allah sendiri. Paham Allah berkaitan langsung dengan pengharapan, dengan penghargaan terhadap hidup. Paham Allah tidak terikat pada agama, jangan lagi pada satu agama. Sebab, paham Allah itu berpangkal pada sikap Allah sendiri, yang adalah kasih (lih.1Yoh 4:7-8). Paham Allah muneul dari pertemuan pribadi dengan Allah. Refleksi atas pengalaman itu dibantu oleh pengalaman orang lain, khususnya oleh mereka yang dalam teologi melatih diri untuk merefleksikan irnan dan pengalaman iman. Teologi bukanlah syarat untuk doa. Tetapi, teologi dapat memberi sumbangan berarti bagi orang yang ingin bertemu dengan Allah sebagaimana Ia menyatakan diri dalam sejarah keselamatan. Sebab, selalu ada bahaya bahwa doa tidak menjawab sapaan Allah, tetapi hanya mengungkapkan pikiran dan keinginan hati orangsendiri. Manusia dapat menjadi nabi palsu bagi dirinya sendiri. Maka, tanggapan kritis dari teologi dapat membantu untuk tetap mencari Allah sebagaimana Ia menyatakan diri.

Teologi ditemukan di mana?
Pertanyaan pokok, bagaimana mungkin sumbangan teologi pada doa orang yang sarna sekali tidak tahu-menahu mengenai teologi, sesungguhnya sudah terjawab. Di atas sudah dikatakan bahwa orang tidak pernah berdoa sendirian, juga kalau ia berdoa sendiri. Orang beriman selalu berdoa dalam jemaat, dalam hubungan dengan orang lain. Dalam jemaat itu, pasti ada pengaruh dari teologi, entah karena pengaruh pribadi para teolog, entah karena karya pewartaan dan katekese, yang juga dipengaruhi oleh teologi. Memang teologi bukan syarat untuk doa, dan tidak perlu setiap orang berirnan mengadakan refleksi iman yang ilmiah. Tetapi, setiap orang wajib bersikap kritis terhadap doanya sendiri. Iman bukan hanya soal perasaan dan sentimen, tetapi “dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan kepatuhan akal budi dan kehendak sepenuhnya” (Dei Verbum 5). Segi akal budi dan kehendak itu pantas diperhatikan. Untuk itu, memang tidak perlu teologi. Tetapi, perlu refleksi dan perhatian. Dan seeara khusus Konsili Vatikan II berani berkata, “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus” (DV 25). Membaea Kitab Suci dengan memanfaatkan aneka pedoman dan keterangan seeara tidak langsung membuat orang belajar teologi, tidak seeara ilmiah, tetapi dalam kerangka refleksi yang kritis. Begitu juga dengan ibadat sabda dan pelajaran agama. Tetapi, semua itu mengandaikan bahwa pelayanan Firman dalam Gereja sungguh bermutu dan membantu.

Maka, sumbangan teologi bagi doa harus datang pertama-tama dari para teolog sendiri. Itu berarti bahwa dalam teologi, janganlah ilmu diceraikan dari doa. Hubungan antara teologi clan doa hams mulai dalam teologi sendiri. Teologi mencari pemahaman. Tetapi, pemahaman selalu berdasarkan penghayatan, dan doa adalah penghayatan iman yang khusus. Sudah dikatakan dalam bab mengenai “Ora et Labora” bahwa doa tidak boleh dipisahkan dari karya. Maka, teologi tidak hanya merefleksikan doa, dan teologi juga tidak hanya dapat dikembangkan dengan doa. Diperlukan banyak kerja, termasuk kerja ilmiah. Tetapi, justru di mana orang beriman secara khusus berusaha menanggapi wahyu Allah, yakni di dalam doa, amat pentinglah refleksi teologis. Doa dan teologi kait-mengait. ltu berarti bahwa doa dan teologi saling membutuhkan. Tanpa doa, teologi mudah menjadi filsafat atau ilmu agama. Sebaliknya, tanpa teologi, doa mudah menjadi usaha mencari kepuasan rohani sendiri. Tanpa sikap kritis,doa mudah berpusat pada pusatnya sendiri dan tidak lagi berupa dialog. Bahaya khusus untuk doa sudah ditunjuk oleh Yesus sendiri: sikap Farisi yang puas diri. “Aku bersyukur bahwa aku tidak seperti orang lain” (Luk 18: 11). Doa selalu harus dihayati dalam kesadaran akan kesatuan dalam iman dengan banyak orang lain. Karena itu, juga pantas didengarkan dan diperhatikan orang lain itu.

Dialog
Pertanyaan kedua, yang disebut pada awal uraian ini, ialah sejauh mana doa menyentuh Allah yang disapa. Ini jelas pertanyaan teologis, karena menyangkut soal iman. Dikatakan bahwa “Tuhan telah menyatakan kebaikan-Nya lama sebelum kita mengajukan permohonan khusus kepada-Nya. Segala permohonan harus kita tempatkan dalam kerangka sejarah kebaikan Tuhan”. Hal yang sarna berlaku untuk sifat “dialog” dalam doa. Tuhan telah memanggil kita sebelum kita menanggapi panggilan-Nya dalam doa. Inisiatif untuk doa tidak ada pada manusia. Dari pihak manusia, doa adalah jawaban, tanggapan. Doa memang suatu dialog, tetapi tidak seperti antara dua orang manusia. Menggambarkan doa sebagai obrolan dengan orang ternan, dan menantikan tanggapan dari Tuhan seperti dari ternan, adalah khayalan dan antropomorfisme. Kalau dikatakan bahwa “Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka, seperti seorang berbicara kepada temannya”(Kel 33:11), maka tidak dimaksudkan bahwa Musa sebaya dengan Tuhan. Yang dimaksud bahwa pembicaraan dan doa Musa sangat akrab, sungguh merupakan hubungan pribadi. Tetapi, “Tuhan memanggil Musa” (KeI19:20; juga 1m 1:1), dan bukan Musa yang memanggil Tuhan. Inisiatif ada pada Tuhan.

Tetapi, kebenaran itu tidak berarti bahwa Tuhan berbicara dulu-dulu, dan tidak dalam doa sekarang. Di sini perlu diperhatikan dua hal, firman Tuhan dahulu dan tanggapan kita sekarang. Tuhan memang bersabda dahulu. jalan kepada firman Tuhan itu adalah Kitab Suci. Maka, doa yang paling baik memang berpangkal pada Kitab Suci. Tetapi, perlu diingat teguran Yesus kepada orang Farisi, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal. Tetapi, walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” (Yoh 5:39-40). Kitab Sucihanyalah jalan kepada Yesus. Yang pokok adalah Yesus. Sebab, Dia adalah Firman Allah sendiri. Dan “Yesus Kristus tetap sarna, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-Iamanya” (Ibr 13:8). Kita bertemu dengan Yesus bukan hanya dalam Alkitab, tetapi dalam Gereja, dalam sakramen, dan dalam setiap pertemuan kasih dengan sesama manusia. Adalah tujuan utama doa untuk membuat Yesus dari dahulu menjadi aktual sekarang. Maka, dialog doa adalah pertama-tama dialog dengan Yesus yang hadir dalam hidup sekarang, dan melalui Yesus dengan Bapa yang mengutus Yesus. Menurut DV ~, dialog itu hanya mungkin dengan “bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi dan menimbulkan rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran”. Kata-kata terakhir amat penting: karena karya Roh Kudus manusia sadar bahwa di sini, sekarang dan di tempat ini, ia disapa oleh Allah, bahwa firman dari dahulu mempunyai arti bagi dia sekarang. Dalam kesadaran itu, doa menjadi dialog.

Merasakan kehadiran Tuhan
Doa bukan teologi. Dalam doa, memang ada refleksi karena sadar. Tetapi, yang pokok dalam doa adalah kesadaran akan kehadiran Tuhan. Itu dapat terjadi tanpa kata-kata, bahkan tanpa pikiran refleksif. Yang pokok adalah mengalami dan merasakan kehadiran Tuhan. Maka, ketenangan adalah intisari doa ini. Dalam ketenangan, orang makin masuk ke dalam dasar jiwanya, makin mengalami yang paling pokok dalam hidupnya, makin mengalami diri sebagai makhluk eiptaan Tuhan, yang amat dicintai oleh-Nya. Di sini menjadi kentara peranan teologi. Sebab, kemakhlukan, cinta Allah, dan hidup abadi bukanlah gagasan yang spontan muneul, melainkan sudah terbentuk dalam benak sebelurnnya. Teologi membantu orang, entah langsung entah melalui pengaruh orang lain, untuk menjadi peka terhadap pengalaman akan kehadiran Tuhan. Pengalaman itu s~ndiri datang langsung dari Tuhan, dan inilah yang oleh Konsili disebut “rasa manis”. Tetapi, mengenal pengalaman itu sebagai perjumpaan dengan Tuhan adalah pemahaman, yang akhirnya berasal dari teologi. Pemahaman itu dapat menolong ketenangan. Orang makin mudah dan makin pasti masuk ke dalam kehadiran Tuhan, tanpa diganggu oleh pertanyaan atau kekhawatiran. Orang tahu bahwa ia memang diberi kesempatan mengalami kehadiran Tuhan.. Karena itu. ia berani percaya pada pengalaman itu. Ia tidak bingung dengan suatu pengalaman yang memang luar biasa. Inilah “yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (lKor 2:9). Orang mau bersungguh-sungguh belajar untuk menerima anugerah Tuhan itu dan membiarkan Roh berkarya sendiri.

Kepada orang Korintus, Paulus sudah berkata, “Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (lKor 3:16; bdk. Rm 8:9.11; 2Tim 1:14; juga Yoh 14:17). Orang beriman senantiasa sudah menjadi “bait Roh Kudus” (l Kor 6:19). Tetapi, barangkali banyak orang harus berkata, bersama dengan Yakub, “Sesungguhnya Tuhan ada di sini, dan aku tidak tahu” (Kej 28:16). Pemahaman akan karya Allah dapat membantu untuk merasakan kehadiran Roh dengan lebih sadar. ltulah sumbangan yang dapat diberikan oleh teologi kepada doa: membuat orang sadar mengenai karya Allah dalam dirinya. Sebab, doa bukanlah suatu pengalaman individual saja. Tuhan sungguh berkarya dalam diri orang individual, tetapi tidak hanya dalam dia. Karya Allah “mempersatukan di dalam Kristus segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi” (Ef 1:10). Karya Allah dalam satu orang berkaitan langsung dengan pengudusan dan penyelamatan semua orang yang lain. Kehadiran Roh dalam satu orang berhubungan langsung dengan seluruh Gereja, bahkan dengan alam raya seluruhnya. Karena itu, doa tidak pernah dapat dilepaskan dari misteri keselamatan Allah dalam seluruh sejarah dan medan kehidupan umat manusia. Doa kait-mengait dengan sakramen, dengan sejarah keselamatan, dengan pembangunan masyarakat, dengan kematian dan hidup kekal, dan dengan segala sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Semua itu tentu tidak selalu disadari seeara langsung, tetapi harus dihayati sebagai latar belakang untuk doa yang konkret. Dalam hal itu, teologi dapat menolong.

Teori dan praktek
Teori tanpa praktek tidak ada gunanya; itu disetujui oleh hampir semua orang. Tetapi kebalikannya, bahwa praktek amat membutuhkan teori, bukanlah keyakinan umum. Padahal, segal a kegiatan manusia baru sungguh manusiwi kalau diarahkan oleh pikiran. Hal itu berlaku untuk kegiatan manusia pada umurnnya, termasuk benar juga untuk doa. Doa kehiangan nilai manusiawinya kalau tidak diarahkan oleh pikiran. Namun dengan demikian, tidak mau dikatakan bahwa doa sarna dengan pikiran. Mungkin itu berlaku untuk meditasi, tetapi ada banyak bentuk doa lain yang digerakkan langsung oleh pengalaman akan kehadiran Allah. Doa tidak sirna dengan pikiran, tetapi juga tidak bisa tanpa pikiran. Mau tidak mau, orang bertanya mengapa berdoa, untuk apa berdoa, bagaimana berdoa. Doa sendiri bukan masalah. Tetapi, doa menjadi pertanyaan sebagai salah satu kegiatan manusia di antara sekian banyak kegiatan yang lain. Untuk rnenjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tidaklah perlu suatu teori yang berlaku urnum. Yang dibutuhkan ialah pertanggungjawaban mengenai kegiatan manusiawi itu. “Siap sedialah memberi pertanggungjawaban tentang pengharapan yang ada padamu,” kata surat pertarna St. Petrus (3:15). Ini berlaku umurn. Adalah tugas teologi untuk mernbantu pertanggungjawaban itu.

Kesulitannya ialah bahwa teologi, sebagai ilrnu, selalu berbicara dengan bahasa khusus yang dipandang berlaku umurn. Karena bahasa itu khusus, dengan sendirinya bisa disangsikan apakah diketahui urnum. Dan rnernang teologi yang sudah sarnpai status “teori”, artinya yang sudah menjadi suatu sistern tersendiri, pasti sulit diketahui oleh orang yang . bukan ahli (sarna seperti semua ilrnu yang lain). Tetapi, sikap teologis, yang rnencoba merealisasikan apa yang diminta oleh surat Petrus tadi, dapat diungkapkan dalam bahasa yang “biasa”. Sikap itu adalah sikap kritis, yang mernpertanggung-jawabkan irnan tidak hanya terhadap orang lain, tetapi lebih-lebih terhadap dirinya sendiri. ikap itu membuat doa meniadi suatu kegiatan manusiawi yang sungguh berharga, juga kalau dilihat dari sudut manusia saja, Tentu saja yang dimaksud adalah manusia beriman (dari sudut pandangan at is, doa memang berarti mernbuang waktu). Manusia beriman yang dapat rnempertanggungjawabkan irnannya juga dapat menghargai doa secara rnanusiawi. Itulah pula sumbangan teologi pada doa.

Prof. Dr. Tom Jacobs, SJ
Kiriman artikel ditulis oleh B. Jeanedith

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s