Sore itu, Adi dimarahi oleh ayahnya karena ketahuan merokok. “Kamu itu masih muda, kenapa ikut-ikutan ayah merokok? Merokok itu tidak baik untuk kesehatan, selain itu merokok akan memboroskan uang kamu. Daripada beli rokok kenapa kamu tidak beli makanan saja?” Ujar ayah kepada Adi. Adi hanya terdiam dan mengangguk setuju akan perkataan ayahnya. “Kamu itu jangan mengangguk-angguk saja, tapi buktikan ke Ayah kalau kamu tidak merokok lagi, ngerti?” seru si ayah setelah menghembuskan asap rokok dari rokok yang semenjak tadi dipegang di tangannya.

Dapatkah Anda menebak, apa yang akan dilakukan si Adi setelah itu? Menuruti nasehat ayahnya atau tetap melanjutkan merokok secara lebih diam-diam dan terorganisir?

Banyak dari kita menginginkan anak-anak kita menjadi seseorang yang baik yang tidak mencontoh tindakan yang buruk. Namun sadar atau tidak sadar, anak kita ternyata tidak jauh berbeda dengan kita. Jika kita merokok, maka anak kita juga menjadi perokok. Jika kita sering adu mulut dengan pasangan, maka anak kita menjadi orang yang bermulut tajam, dan seterusnya.

Jika kita menginginkan anak kita menjadi seseorang yang baik, siapakah yang harus berubah pertama kali? Haruslah kita sebagai orang tua yang mencontahkan anak-anak kita dengan perilaku-perilaku kita yang pantas ditiru dan dikembangkan.

“Air yang jernih diperoleh dari sumber yang jernih pula.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s