Sepulang dari kantor, Bejo segera duduk dan menyalakan TV di depannya. Si istri yang sejak tadi telah menunggu kedatangannya, segera menyongsong si suami. Si istri berkata dengan manja kepada sang suami, “Pah, aku mau cerita nih, dengerin ya Pah!” Si suami hanya menganggukan kepala namun pandangannya tertuju pada berita bisnis yang ada di layar TV. Si istri segera bercerita tentang kursus masak yang dilakukannya tadi pagi. Tiba-tiba, “Pah, papah itu ndengerin tidak? Kok dari tadi tidak ada komentarnya, cuman mengangguk-angguk saja”, seru si istri kepada suaminya. Suaminya hanya kaget dan berkata, “Hmm..?”. Si istri meninggalkan si suami dengan rasa jengkel. Esoknya, si suami bercerita mengenai kejadian semalam dengan temannya, “Apa salahku? Padahal aku sudah mendengarkan cerita dia.”

Sahabat yang baik, mendengarkan itu berbeda jauh dengan mendengar. Mendengarkan itu penuh dengan konsentrasi, tidak disambi dengan hal lain. Dengan mendengarkan, si suami memiliki kontak batin dengan si istri sehingga membuat si istri merasa didengarkan. Jika anda bisa mendengarkan keinginan teman kerja, complain customer anda dengan sabar, namun mengapa anda tidak bisa mendengarkan cerita istri anda yang telah menemani hidup anda? Mulailah mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang lain,bangunlah komunikasi yang baik agar tidak ada miss komunikasi dalam hidup.

“Belajarlah mendengarkan orang lain bila kita ingin didengarkan oleh mereka.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s